Ichtisar

Pada masa kerdja di klinik anak2 Rumah Sakit “Bethesda” di Jogjakarta pengamatan mengenai djumlah kematian anak2 jang ternjata tinggi itu merupakan tilik-tolak bagi hipotesis2 jang sebagai berikut: Hipotesis 1: Djumlah kematian anak2, berumur 0-9 tahun, diantara para penduduk Daerah Istimewa Jogjakarta (pulau Djawa), itu ternjata tinggi. Hipotesis II: Salah-satu faktor penting jang meninggikan djumlah kematian anak2 ialah kekurangan makanan baik setjara kwantitatip maupun setjara kwalitatip. Hipotesis III: Ketegangan jang bertambah2 diantara djumlah para penduduk dan kemungkinan untuk memeliharakan kebutuhan2 mereka jang primèr itu merintangi perbaikan makanan.
Hasil pertanian dari sawah2 dan tegelan2 sendiri serta makanan jang dapat diperoleh dari hasil produksi bukan agraria itu tidak mentjukupi.

Mengingat hipotesis 1 djumlah seluruh kematian pada djangka waktu 1952-1956 di D.I. Jogjakarta dianalisa setjara kwantitatip. Ternjata bahwa 21.9% dari djumlah seluruh kematian terdiri atas baji; 23.6% terdiri atas kanak2, jang berumur 1-4 tahun; dan 4.3% tediri atas anak2, jang berumur 5-9 tahun; Golongan2 tersebut merupakan berturut2: 3.5% (baji);11.9% (kanak2); dan 13% (anak2) dari djumlah seluruh penduduk, sehingga 15.4% seluruh penduduk menjumbangkan 49.8% pada djumlah kematian umum. Pada tahun 1960 djumlah kematian dalam daerah ini ditaksirkan bagi golongan baji 165 pro mille; bagi golongan kanak2: 42 pro mille; dan bagi gologan anak2: 7 pro mille. Bilamana dibandingkan dengan angka2 di negeri2 jang lain, djumlah kematian ini boleh disebutkan tinggi.
Meningat hipotesis II, segala 1345 kematian anak2 pada djangka waktu 1954-1959 dalam kedua klinik anak2 jang besar di Jogjakarta dianalisa setjara kwalitatip. Analisa ini menjatakan bahwa bagi golongan kanak2 (1-4 th) proses malnutrition (kwashiorkor) merupakan sebab jang terutama, dengan 34% djumlah kanak2 jang meninggal.
Pemeriksaan lebih landjut mengenai anak2 jang meninggal pada umur 1-4 tahun, chusus tentang aspek makanan, kemudian antara lain menjatakan bahwa pada anak2 jang meninggal oleh sebab penjakit usus (sebab mati jang langsung), 50% daripada mereka itu djuga menderita karena malnutrition jang hebat. Malnutrition (kwashiorkor) ini boleh dianggap sebagai sebab mati jang tidak langsung dan jang mempengaruhi djalannja penjakit pajah.
Untuk menjelidiki sampai berapa djauh makanan jang kurang baik mempengaruhi perkembangan dan kematian para baji, lalu diadakannja penelitian chusus mengenai bertnja timbangan baji dai dua matjam golongan ibu, ialah golongan kaum ibu jang sedang berada dan golongan kaum ibu jang sedang miskin. Kedua golongan ibu tersebut sama dalam hal bangsa, umur, djumlah anak per ibu dan saat pemeriksaan. Kedua golongan itu sangat berbeda hanja dalam taraf kekajaan. Perbedaan besar dalam beratnja timbangan antara baji kepunjaan ibu jang berada dan bji kepunjaan ibu jang miskin itu dapat diterangkan oleh perbedaan kwalitas makanan selama mesa hamilnja kedua golongan ibu tersebut. Perkembangan jang kurang baik pada foetus jang akan dilahirkan oleh seorang ibu jang miskin itu dapat dianggap sabagai faktor jang mempertinggi kemungkinan bahwa baji itu segera akan meninggal dunia. Tiga matjam pemeriksaan tersebut diatas menjatakan bahwa makanan jang kurang baik itu mendjadi faktor jang utama, jang mengakibatkan taraf tinggi kematian anak2 pada umur 0-9 tahun.

Mengingat hipotesis III diselidikinja nisbah hasil pertanian terhadap djumlah dan tambahnja para penduduk D.I. Jogjakarta pada masa 1930-1960. Menurut bahan pentjatatan sipil pada masa tersebut pare penduduk bertambah dengan 33%, akan tetapi dengan mengandaikan kekurangan pentjatatan sebesar 15%, tambahan tersebut bolehkan berdjumlah 49%.
Berdasarkan index kelahiran sebesar 43 pro mille dan index kematian sebesar 22 pro mille, tambahan penduduk ditaksir lebih dari 2% pada tiap2 tahun (1960) Didalam derah dengan ketela sebagai makanan utama hasil2 pada masa jang sama itu ternjata berkurang dengan 32% antara lain oleh sebab erosi jang hebat pada ladang2. Dalam daerah tersebut pada tiap2 tahun terdjadi kelaparan. Hasil2 jang terambil dari produksi lain dalam daerah jang belum mengenal industri ini ternjata sedikit sadja.
Pertambahan djumlah penduduk sangat mendjauhkan diri-dari perkembangan ekonomi,sehingga porsi makaman bagi tap2 orang makin berkurang.

Pada penindjauhan untuk mentjari djalan kepada kenaikan kemakmuran kami membuat beberapa tjatatan tentang perkembangan industrialisasi jang mengetjewakan; tentang pemindahan pertanian jang menurut adat-istiadat itu kepada pertanian jang komersiil pada lapangan jang lebih luas daripada biasa (0.5-0.7 H.A.); apalagi tentang faktor2 kebudajaan meningatkan kesuburan pada masa ini seta mungkin dapat dipengaruhi atau dirobah djika tingkat kesuburan tadi perlu direndahkan.